Judul: The Giver (Sang Pemberi)
Pengarang:
Lois Lowry
Penerjemah:
Ariyantri Eddy Tarman
Penerbit:
PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit:
-Internasional: 1993
-Indonesia: Agustus, 2014
Jumlah Halaman & Ukuran:
232 halaman; 20 cm
Sinopsis:
Jonas, anak laki-laki
yang sebentar lagi akan menjadi Dua Belas, hidup di sebuah Komunitas—dunia
setelah Kesamaan, dimana di dunianya, tidak ada lagi yang namanya hal baru,
tidak ada kejutan, tidak ada rasa takut, tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa
marah, tidak ada cinta, tidak ada warna, tidak ada pilihan dan sebagainya.
Namun, diantara semua
kedamaian dunia itu, tentu saja, ada orang yang masih memegang kenangan akan
masa lalu. Kenangan akan rasa sakit, rasa cinta, rasa marah, kenikmatan hidup, kebencian,
dan sebagainya. Orang itu disebut Sang Pemberi. Namun, Sang Pemberi tidak hidup
selamanya. Ia harus memberikan ingatannya kepada seseorang, karena, ketika Sang
Pemberi ini nanti, meninggal dunia, ingatannya tidak akan ikut mati bersamanya,
ingatan itu abadi. Jadi, ketika nanti ia meninggal, yang terjadi adalah,
ingatan itu nantinya akan masuk ke dalam benak orang-orang yang tinggal di
Komunitas.
Jadi, pada saat upacara
Dua Belas, Jonas, terpilih menjadi Sang Penerima—orang yang akan menjadi Sang
Pemberi selanjutnya. Sang Pemberi mulai memberi Jonas ingatan-ingatan akan masa
lalu. Kehangatan keluarga, bagaimana rasanya memiliki keluarga utuh—karena, di
Komunitas, seseorang nantinya hanya akan dipilihkan suami atau istri oleh para
Komite, lalu ketika sudah siap, mereka akan meminta anak ke Komite. Namun,
mereka hanya boleh meminta anak dua kali. Satu perempuan, dan satu lagi
laki-laki. Setelah anak-anak mereka dewasa dan memiliki pasangan, orang tua
mereka akan menjadi Orang Dewasa Tak Beranak, yang tidak akan pernah lagi bisa
tinggal bersama anak-anak mereka—karena itu, ketika Jonas mendapatkan ingatan
tentang bagaimana rasanya berada di ruangan yang penuh dengan keluarga besar,
ada kakek, nenek, dan lain-lain ia merasakan sebuah kekuatan, kenyamanan, kehangatan,
yang meliputi ruangan dalam ingatan yang diberikan oleh Sang Pemberi. Cinta.
Begitulah Sang Pemberi menyebutkan nama dari perasaan yang dirasakan Jonas
dalam ingatan.
Namun, Sang Pemberi
tidak hanya memberikan ingatan akan kenikmatan hidup, cinta dan sebagainya.
Sang Pemberi juga memberi Jonas ingatan akan rasa sakit. Sang Pemberi pernah
memberi Jonas ingatan akan penderitaan yang dirasakan orang-orang saat perang.
Sejak menerima ingatan itu, Jonas tahu bahwa kehidupan di Komunitas sangatlah
nyaman. Ia tahu apa itu rasa marah. Ia benar-benar merasakan marah, marah akan
ketidakadilan—merasakan amarah yang bergejolak dengan dahsyat dalam dirinya
melalui ingatan. Bukan hanya sekadar rasa ketidaksabaran yang dangkal dan
kejengkelan—yang selama ini, sebelum menerima ingatan, ia kira rasa marah.
Ia juga mulai melihat
warna, dan menyadari, betapa hambarnya kehidupan yang dijalani oleh dirinya
sebelum ia menerima ingatan. Sebelumnya, ia tidak bisa melihat warna merah,
biru, hijau, warna-warna bunga, dan sebagainya. Ia merasa kasihan pada
orang-orang di Komunitas, karena tidak bisa melihat indahnya warna-warna di
lingkungan sekitar mereka. Ia sudah beberapa kali mencoba menyalurkan ingatan
kepada teman-temannya, namun gagal. Padahal, ia begitu ingin teman-temannya tahu
akan kenikmatan, kesengsaraan hidup di dunia pada generasi-generasi jauh
sebelum generasi mereka. Terutama, ia ingin teman-temannya merasakan cinta.
Karena, ia meraskan begitu banyak cinta untuk mereka, namun, bagaimana Jonas
bisa berharap mereka juga memiliki rasa cinta kepada dirinya ketika mereka
bahkan tidak tahu seperti apa rasanya memberikan dan diliputi perasaan penuh
cinta?
Jonas dan Sang Pemberi
sebenarnya tidak setuju dengan cara hidup mereka setelah Kesamaan ini. Mereka
merasa tidak adil ketika orang-orang tidak akan merasakan kebahagian, cinta,
rasa sakit, kebencian, kenikmatan, tidak bisa melihat warna-warni yang ada di dunia,
tidak tahu dan tidak pernah mendengar apa itu musik, tidak memiliki
pilihan—bahkan dalam hal memilih pasangan, mempunyai anak, dan bahkan dalam hal
sepele seperti memilih warna baju.
Mereka pun akhirnya
mempunyai sebuah rencana untuk
melepaskan ingatan-ingatan Sang Pemberi yang kebanyakan sudah diserahkan
kepada Jonas. Rencana mereka adalah, Jonas pergi ke luar dari Komunitas dengan
di antar oleh Sang Pemberi dan ketika Jonas sudah keluar dari Komunitas,
ingatan-ingatannya akan terlepas dan pergi ke benak orang-orang yang tinggal di
Komunitas. Lalu, Sang Pemberi akan datang kembali ke Komunitas itu lagi dan
membantu orang-orang dengan ingatan-ingatan tersebut.
Namun, rencana itu
gagal, karena sebuah kejadian mendadak dan Jonas terpaksa harus pergi keluar
dari Komunitas mereka dan membawa balita yang selama ini diasuh oleh
keluarganya—Gabriel, atau biasa dipanggil, Gabe—bersamanya.
Ia dan Gabe melalui
siang dan malam, panas dan dinginnya hari dengan tabah. Walaupun persediaan
makanan mereka sudah habis dan mereka kelaparan, Jonas tetap ingin melihat
kehidupan di luar Komunitas. Sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai Tempat
Lain. Jonas sempat menyesal sudah meninggalkan Komunitas—karena, jika mereka
tidak meninggalkan Komunitas, mereka tidak akan kelaparan. Namun, segera Jonas
sadar, jika mereka tidak meninggalkan Komunitas, mereka tetap akan kelaparan.
Mereka akan kelaparan akan warna, kebahagiaan dan cinta.
Setelah melalui
berhari-hari di perjalanan yang tidak mudah, dan dengan sisa-sisa tenanga yang
dimiliki olehnya, Jonas akhirnya bisa membawa dirinya dan Gabe sampai ke Tempat
Lain. Tempat dimana, semuanya penuh cinta, warna, musik dan kebahagiaan.[]
Keunggulan dan Kelemahan:
Menurut saya, harga 49.000 untuk buku yang memiliki sekitar 230-an halaman ini,
cukup logis, jadi sebenarnya tidak ada masalah dengan harga buku ini. Kertas
yang digunakan untuk buku The Giver ini,
menurut saya juga cukup bagus, dan tidak ada masalah juga dengan kertas. Bahasa
yang digunakan oleh si penerjemah, menurut saya, juga bagus dan enak untuk
dibaca. Sedangkan bahasa yang digunakan oleh si penulis untuk menggambarkan
sebuah tempat, seseorang dan sebagainya juga bagus, dan detail namun tidak
membingungkan. Sedangkan isi bukunya, menurut saya sangat amat bagus. Menurut
saya, buku ini memiliki makna untuk menikmati cinta, kenikmatan hidup, dan
betapa hambarnya dunia tanpa hal-hal itu. Namun, buku ini juga mengajarkan
bahwa kenikmatan hidup tidak akan datang tanpa diiringi oleh kesengsaraan dan
kesakitan dalam hidup. Sebenarnya, menurut saya kelemahan dari buku ini adalah,
ada di bagian akhir. Bagian akhir dari buku ini menimbulkan banyak pertanyaan
di otak saya. Beberapa orang, ada yang berpikir bahwa Jonas dan Gabe melakukan
perjalanan memutar—jadi, Jonas dan Gabe hanya kembali ke Komunitas mereka,
namun, orang-orang disana sudah menerima ingatan dan mengubah hidup mereka.
Namun, ada juga yang berpikir bahwa Jonas dan Gabe mati—karena, menurut merka,
Lois Lowry—si penulis—ini berhasil menggambarkan Tempat Lain sebagai surga.
Sedangkan, ada juga yang berpikir bahwa Jonas dan Gabe pergi melintasi
waktu—jadi, Tempat Lain itu sebenarnya dunia di generasi-generasi yang lalu.
Kesimpulan dan sarannya
menurut saya adalah, buku ini sangat amat bagus, namun sayangnya, bagian akhir
dari buku ini menimbulkan banyak pertanyaan, jadi, saran saya adalah penerbit
Indonesia yang memiliki hak untuk menerjemahkan buku ini, cepat-cepat
menerbitkan lanjutan dari buku ini. Karena, sebenarnya The Giver adalah buku pertama dari sebuah serial—dan, saya yakin,
pembaca-pembaca lain buku ini pasti sudah menantikan terbitnya buku selanjutnya
dari serial ini.
UNSUR INTRINSIK
Tema: Menceritakan
tentang anak yang menanggung ingatan akan kenikmatan dan kesengsaraan hidup di
dunia setelah terjadinya Kesamaan.
Penokohan:
-Jonas: Sosok yang selalu ingin tahu, polos, sopan, pemikir yang pintar, dan pantang
menyerah dalam menjalani apapun.
-Sang Pemberi: Digambarkan sebagai sosok yang baik
dan bijaksana serta kuat menanggung kesengsaraan dan kenikmatan kehidupan
sekaligus.
-Orang-orang di Komunitas
-Gabe
Latar: -Waktu: Di
masa depan. Tepatnya, di dunia setelah Kesamaan.
-Tempat: Komunitas di masa depan.
-Suasana: Mengharukan, menegangkan, menyedihkan,
menyenangkan, mengerikan
Alur: Maju dari saat
Jonas sebelum melakukan upacara Dua Belas, lalu maju sampai dia terpilih
menjadi Sang Penerima, lalu maju lagi sampai pelatihan dan menerima
ingatan-ingatan—walaupun, disini ada alur mundur juga, ketika Jonas menerima
ingatan tentang masa lalu dari generasi yang sangat jauh sebelum
generasinya—lalu maju lagi sampai akhirnya Jonas dan Gabe sampai ke Tempat
Lain.
Amanah: Kita harus
menikmati kehidupan yang walaupun penuh akan kepedihan, rasa sakit,
penderitaan, namun juga dihiasi dengan warna, cinta, musik, kasih sayang,
kebahagiaan, keluarga yang lengkap dan lain sebagainya.
Sudut Pandang:
Orang ketiga.
UNSUR EKSTRINSIK
Nilai Moral:
Kita harus bersikap bijaksana seperti yang dicontohkan oleh Sang Pemberi. Kita
juga harus bersikap pantang menyerah seperti yang dicontohkan oleh Jonas pada
saat ia membawa dirinya dan Gabriel dengan penuh harapan menuju Tempat Lain.
Nilai Sosial:
Kita harus memedulikan sesama seperti yang dicontohkan oleh Jonas—yang dengan
caranya sendiri, berusaha memberikan ingatan akan warna, kebahagian, kepada
teman-temannya—dan, kita juga tidak boleh egois dan hanya menyimpan kebahagian
untuk diri kita sendiri. Kita harus saling peduli. Itulah inti dari segalanya.
Nilai Agama:
-
Nilai Budaya:
-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar