Senin, 02 Maret 2015

[RESENSI NOVEL] The Giver (Lois Lowry)



Judul: The Giver (Sang Pemberi)

Pengarang: Lois Lowry

Penerjemah: Ariyantri Eddy Tarman

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: -Internasional: 1993

-Indonesia: Agustus, 2014

Jumlah Halaman & Ukuran: 232 halaman; 20 cm


Sinopsis:
Jonas, anak laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi Dua Belas, hidup di sebuah Komunitas—dunia setelah Kesamaan, dimana di dunianya, tidak ada lagi yang namanya hal baru, tidak ada kejutan, tidak ada rasa takut, tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa marah, tidak ada cinta, tidak ada warna, tidak ada pilihan dan sebagainya.
Namun, diantara semua kedamaian dunia itu, tentu saja, ada orang yang masih memegang kenangan akan masa lalu. Kenangan akan rasa sakit, rasa cinta, rasa marah, kenikmatan hidup, kebencian, dan sebagainya. Orang itu disebut Sang Pemberi. Namun, Sang Pemberi tidak hidup selamanya. Ia harus memberikan ingatannya kepada seseorang, karena, ketika Sang Pemberi ini nanti, meninggal dunia, ingatannya tidak akan ikut mati bersamanya, ingatan itu abadi. Jadi, ketika nanti ia meninggal, yang terjadi adalah, ingatan itu nantinya akan masuk ke dalam benak orang-orang yang tinggal di Komunitas.
Jadi, pada saat upacara Dua Belas, Jonas, terpilih menjadi Sang Penerima—orang yang akan menjadi Sang Pemberi selanjutnya. Sang Pemberi mulai memberi Jonas ingatan-ingatan akan masa lalu. Kehangatan keluarga, bagaimana rasanya memiliki keluarga utuh—karena, di Komunitas, seseorang nantinya hanya akan dipilihkan suami atau istri oleh para Komite, lalu ketika sudah siap, mereka akan meminta anak ke Komite. Namun, mereka hanya boleh meminta anak dua kali. Satu perempuan, dan satu lagi laki-laki. Setelah anak-anak mereka dewasa dan memiliki pasangan, orang tua mereka akan menjadi Orang Dewasa Tak Beranak, yang tidak akan pernah lagi bisa tinggal bersama anak-anak mereka—karena itu, ketika Jonas mendapatkan ingatan tentang bagaimana rasanya berada di ruangan yang penuh dengan keluarga besar, ada kakek, nenek, dan lain-lain ia merasakan sebuah kekuatan, kenyamanan, kehangatan, yang meliputi ruangan dalam ingatan yang diberikan oleh Sang Pemberi. Cinta. Begitulah Sang Pemberi menyebutkan nama dari perasaan yang dirasakan Jonas dalam ingatan.
Namun, Sang Pemberi tidak hanya memberikan ingatan akan kenikmatan hidup, cinta dan sebagainya. Sang Pemberi juga memberi Jonas ingatan akan rasa sakit. Sang Pemberi pernah memberi Jonas ingatan akan penderitaan yang dirasakan orang-orang saat perang. Sejak menerima ingatan itu, Jonas tahu bahwa kehidupan di Komunitas sangatlah nyaman. Ia tahu apa itu rasa marah. Ia benar-benar merasakan marah, marah akan ketidakadilan—merasakan amarah yang bergejolak dengan dahsyat dalam dirinya melalui ingatan. Bukan hanya sekadar rasa ketidaksabaran yang dangkal dan kejengkelan—yang selama ini, sebelum menerima ingatan, ia kira rasa marah.
Ia juga mulai melihat warna, dan menyadari, betapa hambarnya kehidupan yang dijalani oleh dirinya sebelum ia menerima ingatan. Sebelumnya, ia tidak bisa melihat warna merah, biru, hijau, warna-warna bunga, dan sebagainya. Ia merasa kasihan pada orang-orang di Komunitas, karena tidak bisa melihat indahnya warna-warna di lingkungan sekitar mereka. Ia sudah beberapa kali mencoba menyalurkan ingatan kepada teman-temannya, namun gagal. Padahal, ia begitu ingin teman-temannya tahu akan kenikmatan, kesengsaraan hidup di dunia pada generasi-generasi jauh sebelum generasi mereka. Terutama, ia ingin teman-temannya merasakan cinta. Karena, ia meraskan begitu banyak cinta untuk mereka, namun, bagaimana Jonas bisa berharap mereka juga memiliki rasa cinta kepada dirinya ketika mereka bahkan tidak tahu seperti apa rasanya memberikan dan diliputi perasaan penuh cinta?
Jonas dan Sang Pemberi sebenarnya tidak setuju dengan cara hidup mereka setelah Kesamaan ini. Mereka merasa tidak adil ketika orang-orang tidak akan merasakan kebahagian, cinta, rasa sakit, kebencian, kenikmatan, tidak bisa melihat warna-warni yang ada di dunia, tidak tahu dan tidak pernah mendengar apa itu musik, tidak memiliki pilihan—bahkan dalam hal memilih pasangan, mempunyai anak, dan bahkan dalam hal sepele seperti memilih warna baju.
Mereka pun akhirnya mempunyai sebuah rencana untuk  melepaskan ingatan-ingatan Sang Pemberi yang kebanyakan sudah diserahkan kepada Jonas. Rencana mereka adalah, Jonas pergi ke luar dari Komunitas dengan di antar oleh Sang Pemberi dan ketika Jonas sudah keluar dari Komunitas, ingatan-ingatannya akan terlepas dan pergi ke benak orang-orang yang tinggal di Komunitas. Lalu, Sang Pemberi akan datang kembali ke Komunitas itu lagi dan membantu orang-orang dengan ingatan-ingatan tersebut.
Namun, rencana itu gagal, karena sebuah kejadian mendadak dan Jonas terpaksa harus pergi keluar dari Komunitas mereka dan membawa balita yang selama ini diasuh oleh keluarganya—Gabriel, atau biasa dipanggil, Gabe—bersamanya.
Ia dan Gabe melalui siang dan malam, panas dan dinginnya hari dengan tabah. Walaupun persediaan makanan mereka sudah habis dan mereka kelaparan, Jonas tetap ingin melihat kehidupan di luar Komunitas. Sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai Tempat Lain. Jonas sempat menyesal sudah meninggalkan Komunitas—karena, jika mereka tidak meninggalkan Komunitas, mereka tidak akan kelaparan. Namun, segera Jonas sadar, jika mereka tidak meninggalkan Komunitas, mereka tetap akan kelaparan. Mereka akan kelaparan akan warna, kebahagiaan dan cinta.
Setelah melalui berhari-hari di perjalanan yang tidak mudah, dan dengan sisa-sisa tenanga yang dimiliki olehnya, Jonas akhirnya bisa membawa dirinya dan Gabe sampai ke Tempat Lain. Tempat dimana, semuanya penuh cinta, warna, musik dan kebahagiaan.[]

Keunggulan dan Kelemahan: Menurut saya, harga 49.000 untuk buku yang memiliki sekitar 230-an halaman ini, cukup logis, jadi sebenarnya tidak ada masalah dengan harga buku ini. Kertas yang digunakan untuk buku The Giver ini, menurut saya juga cukup bagus, dan tidak ada masalah juga dengan kertas. Bahasa yang digunakan oleh si penerjemah, menurut saya, juga bagus dan enak untuk dibaca. Sedangkan bahasa yang digunakan oleh si penulis untuk menggambarkan sebuah tempat, seseorang dan sebagainya juga bagus, dan detail namun tidak membingungkan. Sedangkan isi bukunya, menurut saya sangat amat bagus. Menurut saya, buku ini memiliki makna untuk menikmati cinta, kenikmatan hidup, dan betapa hambarnya dunia tanpa hal-hal itu. Namun, buku ini juga mengajarkan bahwa kenikmatan hidup tidak akan datang tanpa diiringi oleh kesengsaraan dan kesakitan dalam hidup. Sebenarnya, menurut saya kelemahan dari buku ini adalah, ada di bagian akhir. Bagian akhir dari buku ini menimbulkan banyak pertanyaan di otak saya. Beberapa orang, ada yang berpikir bahwa Jonas dan Gabe melakukan perjalanan memutar—jadi, Jonas dan Gabe hanya kembali ke Komunitas mereka, namun, orang-orang disana sudah menerima ingatan dan mengubah hidup mereka. Namun, ada juga yang berpikir bahwa Jonas dan Gabe mati—karena, menurut merka, Lois Lowry—si penulis—ini berhasil menggambarkan Tempat Lain sebagai surga. Sedangkan, ada juga yang berpikir bahwa Jonas dan Gabe pergi melintasi waktu—jadi, Tempat Lain itu sebenarnya dunia di generasi-generasi yang lalu.

Kesimpulan dan sarannya menurut saya adalah, buku ini sangat amat bagus, namun sayangnya, bagian akhir dari buku ini menimbulkan banyak pertanyaan, jadi, saran saya adalah penerbit Indonesia yang memiliki hak untuk menerjemahkan buku ini, cepat-cepat menerbitkan lanjutan dari buku ini. Karena, sebenarnya The Giver adalah buku pertama dari sebuah serial—dan, saya yakin, pembaca-pembaca lain buku ini pasti sudah menantikan terbitnya buku selanjutnya dari serial ini.

UNSUR INTRINSIK
Tema: Menceritakan tentang anak yang menanggung ingatan akan kenikmatan dan kesengsaraan hidup di dunia setelah terjadinya Kesamaan.

Penokohan: -Jonas: Sosok yang selalu ingin tahu, polos, sopan, pemikir yang pintar, dan pantang menyerah dalam menjalani apapun.

-Sang Pemberi: Digambarkan sebagai sosok yang baik dan bijaksana serta kuat menanggung kesengsaraan dan kenikmatan kehidupan sekaligus.

-Orang-orang di Komunitas

-Gabe

Latar: -Waktu: Di masa depan. Tepatnya, di dunia setelah Kesamaan.

-Tempat: Komunitas di masa depan.

-Suasana: Mengharukan, menegangkan, menyedihkan, menyenangkan, mengerikan

Alur: Maju dari saat Jonas sebelum melakukan upacara Dua Belas, lalu maju sampai dia terpilih menjadi Sang Penerima, lalu maju lagi sampai pelatihan dan menerima ingatan-ingatan—walaupun, disini ada alur mundur juga, ketika Jonas menerima ingatan tentang masa lalu dari generasi yang sangat jauh sebelum generasinya—lalu maju lagi sampai akhirnya Jonas dan Gabe sampai ke Tempat Lain.

Amanah: Kita harus menikmati kehidupan yang walaupun penuh akan kepedihan, rasa sakit, penderitaan, namun juga dihiasi dengan warna, cinta, musik, kasih sayang, kebahagiaan, keluarga yang lengkap dan lain sebagainya.

Sudut Pandang: Orang ketiga.

UNSUR EKSTRINSIK

Nilai Moral: Kita harus bersikap bijaksana seperti yang dicontohkan oleh Sang Pemberi. Kita juga harus bersikap pantang menyerah seperti yang dicontohkan oleh Jonas pada saat ia membawa dirinya dan Gabriel dengan penuh harapan menuju Tempat Lain.

Nilai Sosial: Kita harus memedulikan sesama seperti yang dicontohkan oleh Jonas—yang dengan caranya sendiri, berusaha memberikan ingatan akan warna, kebahagian, kepada teman-temannya—dan, kita juga tidak boleh egois dan hanya menyimpan kebahagian untuk diri kita sendiri. Kita harus saling peduli. Itulah inti dari segalanya.

Nilai Agama: -


Nilai Budaya: -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar